Mengenal Indikator MACD Untuk Analisis Teknikal Saham

Indikator MACD adalah salah satu dari 6 indikator analisis teknikal terbaik dan paling akurat untuk investasi saham. Dan setiap aplikasi analisis teknikal saham, pasti menyediakan MACD. Namun sayangnya, banyak diantara para trader dan investor saham di Indonesia, yang masih salah dan belum paham tentang cara membacanya dengan benar.

Kenapa hal ini patut disayangkan?

Karena ketidakpahaman ini, menyebabkan banyak sekali kerugian-kerugian (salah beli dan salah jual), yang seharusnya bisa kita hindari. Selain itu, kesalahan cara membaca MACD juga menyebabkan profit kita tidak maksimal. Padahal, sekali lagi, indikator ini adalah salah satu indikator saham yang paling akurat, jika saja kita tahu cara membacanya dengan benar!

Salah satu contoh cara membaca MACD yang salah adalah, Golden-cross berarti sinyal beli, Dead-cross berarti sinyal jual. Ini adalah cara yang keliru. Sebab tidak semua Golden-cross adalah sinyal beli. Dan tidak semua Dead-cross adalah sinyal jual.

Saya sendiri juga dulu melakukan kesalahan yang sama. Sebelum saya tahu, bahwa masih ada kriteria-kriteria lain yang perlu dilihat dan diperhatikan, sebelum kita mengambil keputusan untuk membeli dan menjual saham menggunakan indikator ini.

Sejarah Latar Belakang Indikator MACD

MACD (Moving Averages Convergence Divergence) adalah indikator analisis teknikal saham yang diciptakan sekian puluh tahun yang lalu (1970an), oleh seorang trader dan Fund Manager kenamaan di Wall Street, yaitu: Gerald Appel.

Dan selama sekian puluh tahun pula, Gerald Appel hanya membahas tentang MACD dalam artikel-artikel yang beliau tulis. Beliau baru mengupas tuntas tentang indikator temuan beliau ini, secara detail dan mendalam, di bukunya yang berjudul “Technical Analysis: Power Tools for Active Investors” (terbit pertama kali pada tahun 2005).

Dan dari buku tersebutlah, saya akhirnya baru benar-benar paham dan mengerti tentang apa dan bagaimana cara kerja yang sebenarnya dari indikator analisis teknikal ini.

Dalam bukunya itu, Gerald Appel menceritakan pengalaman dan hasil pengamatannya selama puluhan tahun sebagai trader dan investor saham. Dimana beliau menemukan, bahwa ada 2 indikator analisis teknikal saham, yang secara konsisten menghasilkan profit. Entah di saat market sedang naik, maupun di saat market sedang turun.

Indikator analisis teknikal yang pertama adalah Moving Averages. Dimana beliau mengamati, selama puluhan tahun, bahwa dengan menggunakan Moving Averages, kita dapat membaca arah trend dan arah pergerakan harga dengan sangat akurat.

Dengan menggunakan Moving Average, kita jadi tahu kapan saatnya buy and hold, dan kita tahu kapan saatnya wait and see. Kita juga tahu saham-saham mana yang harus dicermati, dan saham-saham mana yang sebaiknya kita hindari untuk sementara waktu.

Kemudian indikator analisis teknikal yang kedua, yang beliau rekomdasikan adalah Rate of Change. Rate of Change adalah indikator momentum yang cara kerjanya mirip dengan indikator analisis teknikal Stochstic.

Dengan menggunakan Rate of Change, kita dapat mengetahui kapan saatnya market akan berbalik arah. Karena menurut pengamatan beliau, Rate of Change selalu bereaksi lebih duluan daripada Moving Average. Sehingga dengan menggunakan indikator analisis teknikal ini, maka kita dapat mengantisipasi perubahan harga. Dengan begitu kita juga dapat menentukan, kapan saat yang paling tepat untuk melakukan Buy, dan kapan saat yang paling tepat untuk Sell.

Nah, MACD adalah indikator yang diciptakan oleh Gerald Appel untuk menggabungkan antara ketepatan akurasi dari Moving Average dan kecepatan respons dari Rate of Change.

Kekuatan Indikator MACD

Seperti yang sebelumnya sempat kita bahas sedikit, MACD menggabungkan kekuatan dari Moving Averages dan Rate of Change. Hasil penggabungan dan sinergi dari dua jenis indikator ini membuatnya menjadi sebuah indikator yang unik dan berbeda, yang memiliki kelebihan dan kekuatan yang tidak dimiliki oleh indikator analisis teknikal saham yang lain.

Kekuatan #1: Akurat dan Responsif

Indikator analisis teknikal MACD adalah indikator turunan dari indikator Moving Averages. Dan seperti yang sudah kita ketahui, Moving Averages adalah salah satu indikator analisis teknikal terbaik untuk investor jangka panjang.

Indikator Moving Averages dikatakan sebagai salah satu yang terbaik, sebab Moving Averages adalah indikator trend yang sangat akurat. Jika kita tahu cara membacanya, Moving Averages adalah indikator dengan tingkat akurasi di atas rata-rata!

Namun, kelemahan Moving Averages adalah, indikator ini tidak responsif. Yang artinya, Moving Averages adalah indikator yang relatif lambat bereaksi terhadap perubahan dan pergerakan harga saham. Kelemahan inilah yang berusaha ditutupi oleh indikator MACD.

Di sisi lain, indikator Rate of Change adalah salah satu yang terbaik untuk trading jangka pendek. Entah itu untuk strategi Swing Trading, Day Trading, maupun One Day Trade. Meskipun dari pengalaman saya, khusus untuk investasi saham di Bursa Efek Indonesia, indikator Stochastic adalah yang terbaik.

Namun, Rate of Change punya kelemahan yang sangat krusial. Sebagaimana sifat dari indikator analisis teknikal momentum, yang memang responsif terhadap perubahan dan pergerakan harga saham. Rate of Change juga banyak menghasilkan sinyal palsu (false signal). Kelemahan ini pula yang berusaha ditutupi oleh indikator MACD.

Dengan menggabungkan prinsip dari Moving Averages, dengan cara kerja dari Rate of Change, hasilnya adalah indikator yang responsif, namun tetap akurat!

Kekuatan #2: Multiple Time-frame

Kekuatan lain dari MACD adalah, indikator ini dapat digunakan untuk melakukan analisis teknikal dan melihat pergerakan harga di semua jenis time-frame. Entah itu grafik saham bulanan (monthly chart), grafik saham mingguan (weekly chart), grafik saham harian (daily chart), bahkan sampai grafik saham per jam atau per menit (intra-day chart).

Karena ada hal yang perlu diketahui dan diingat, terutama oleh semua trader dan investor saham, bahwa tidak semua metode dan indikator analisis teknikal cocok untuk melakukan analisis di multiple time-frame.

Sebagai contoh misalnya, metode analisis teknikal Candlestick. Analisis teknikal Candlestick sebenarnya tidak cocok untuk digunakan di grafik saham per jam atau per menit (chart intra-day). Sebab candlestick yang ditampilkan di chart intra-day cenderung pendek-pendek, mirip-mirip, dan polanya juga tidak jelas.

Namun tidak begitu dengan MACD. Sifatnya yang fleksibel inilah yang menjadi salah satu kekuatan, yang sebenarnya tidak dimiliki oleh indikator analisis teknikal saham yang lain.

Kelemahan Indikator MACD

Tentu saja, tidak ada satu pun indikator analisis teknikal yang sempurna. Setiap indikator pasti punya kekuatan dan kelemahannya masing-masing.

Kelemahan #1: Tidak Berdiri Sendiri

Meskipun termasuk indikator yang sangat akurat, namun untuk alasan manajemen risiko, Gerald Appel sendiri tetap menyarankan untuk kita menggunakan MACD bersamaan dengan indikator yang lain.

Itu artinya, bahkan si penemunya sendiri pun, juga mengakui bahwa ini bukanlah indikator yang sempurna. Dan kita tidak seharusnya mengikuti semua sinyal Buy dan sinyal Sell yang dihasilkan oleh indikator ini.

Hal ini diutarakan beliau dengan jelas dan transparan, dalam bukunya Technical Analysis: Power Tools for Active Investors. Dalam buku tersebut, beliau memberikan contoh penggunaan Moving Averages MA50, sebagai konfirmasi trend.

Kelemahan #2: Tidak Ada Target Harga

Sama halnya seperti semua jenis indikator analisis teknikal modern, MACD juga sebenarnya tidak memberikan target harga. Itu artinya, kalau ada sinyal Buy, yang dapat kita lakukan adalah beli dan simpan (Buy and Hold).

Tidak ada target harga, berarti kita tidak tahu kapan sinyal Sell akan muncul.Kita hanya tahu bahwa harga saham akan bergerak naik, tapi kita tidak tahu naiknya akan sampai kapan dan kita tidak tahu saham itu akan naik ke harga berapa.

Yang dapat kita lakukan adalah menunggu sinyal Sell muncul. Yang entah kapan munculnya. Sekali lagi, karena kita tidak tahu. Karena MACD memang tidak memberikan target harga.

Inilah batasan-batasan dari MACD, yang harus dipahami oleh setiap trader dan investor saham.

Rumus Indikator MACD dan Cara Membaca

Indikator analisis teknikal MACD terdiri dari 2 komponen utama, yaitu MACD Line dan Signal Line. Inilah dua garis yang nantinya akan membentuk Golden-cross dan Dead-cross.

Rumus MACD Line

Garis MACD Line dibentuk dari hasil perhitungan antara 2 buah indikator Exponential Moving Average (2 buah garis EMA).

Rumus MACD Line adalah…

Mengenal Indikator MACD Untuk Analisis Teknikal Saham 1 - Investasi SahamPin

Pada setting MACD yang standar, perhitungan EMA yang digunakna adalah EMA12 dan EMA26. Dan selisih diantara kedua EMA tersebutlah yang membentuk MACD Line.

Jika posisi EMA12 lebih tinggi daripada posisi EMA26, maka hasilnya adalah garis MACD Line berada di atas nol. Dengan demikian pergerakan harga dapat diartikan sedang berada pada trend naik (Bullish Uptrend). Semakin curam ke atas garisnya, maka semakin kuat pula dorongan trend naik.

Jika posisi EMA12 lebih rendah daripada posisi EMA26, maka hasilnya adalah garis MACD Line berada di bawah nol. Dengan demikian pergerakan harga dapat diartikan sedang berada pada trend turun (Bearish Downtrend). Semakin menukik ke bawah garisnya, maka semakin kuat pula tekanan trend turun.

Posisi dan tingkat kecuraman garis MACD Line inilah yang sebenarnya paling utama dan paling penting dalam cara membaca MACD. Inilah yang sering luput dari perhatian banyak trader dan investor, ketika mereka membaca pergerakan harga saham dengan MACD.

Karena garis MACD Line tidak hanya memberitahu kita tentang trend saat ini, dan kemana arah pergerakan harga (naik atau turun). Namun juga memberitahu kita tentang seberapa kuat dorongan beli atau tekanan jual pada sebuah saham.

Rumus Signal Line

Untuk menghasilkan sinyal beli dan sinyal jual pada MACD, kita mengenal satu jenis garis lagi, yang disebut garis Signal Line.

Rumus Signal Line adalah…

Mengenal Indikator MACD Untuk Analisis Teknikal Saham 2 - Investasi SahamPin

Pada setting yang standar, garis Signal Line adalah garis EMA9 yang dihitung dari garis MACD Line. Garis Signal Line inilah yang membentuk Golden-cross dan Dead-cross.

Namun seperti yang sudah sempat kita sebutkan di awal tulisan ini. Golden-cross dan Dead-cross bukanlah sinyal beli dan jual. Tidak semua Golden-cross adalah sinyal beli. Dan tidak semua Dead-cross adalah sinyal jual. Karena masih ada faktor-faktor lain yang harus kita perhatikan.

Itulah sebabnya, dalam TRANSIT Investing Masterclass (versi PRO dan PRO+), kita akan mempelajari secara detail dan mendalam, tentang cara membaca MACD yang paling ampuh dan akurat. Terutama untuk membaca pergerakan saham-saham yang ada di Bursa Efek Indonesia, lengkap dengan ilustrasi dan beragam contoh kasusnya.

Tips, Trik dan Cara Membaca

Dalam bukunya, Technical Analysis: Power Tools for Active Investor, Gerald Appel memaparkan beberapa cara untuk menggunakan temuannya. Berikut adalah tiga (dari sekian banyak) cara yang beliau bahas dalam buku tersebut.

Cara Membaca #1: MACD Line Divergence

Cara membaca MACD yang pertama adalah dengan memperhatikan divergence pada MACD Line dan chart harga. Seperti yang dapat kita cermati pada contoh di bawah ini.

Mengenal Indikator MACD Untuk Analisis Teknikal Saham 3 - Investasi SahamPin
Mengenal Indikator MACD Untuk Analisis Teknikal Saham 4 - Investasi SahamPin
Mengenal Indikator MACD Untuk Analisis Teknikal Saham 5 - Investasi SahamPin

Cara Membaca #2: Short-term MACD

Gerald Appel juga memberikan alternatif untuk kita menggunakan setting MACD yang berbeda, agar indikator ini dapat lebih sesuai dengan strategi trading dan investasi kita sendiri.

Untuk merubah setting indikator MACD pada TradingView, coba perhatikan ilustrasi berikut ini…

Mengenal Indikator MACD Untuk Analisis Teknikal Saham 6 - Investasi SahamPin

Pada form yang muncul, isikan data berikut ini…

  • Indicator Timeframe: Same as chart
  • Fast Length: 6
  • Slow Length: 19
  • Source: close
  • Signal Smoothing: 9

Di atas adalah setting MACD, yang disarankan oleh Gerald Appel, untuk trading jangka pendek. Dengan menggunakan MACD 6/19/9, maka sinyal yang dihasilkan juga akan jauh lebih responsif.

Mengenal Indikator MACD Untuk Analisis Teknikal Saham 7 - Investasi SahamPin
Mengenal Indikator MACD Untuk Analisis Teknikal Saham 8 - Investasi SahamPin
Mengenal Indikator MACD Untuk Analisis Teknikal Saham 9 - Investasi SahamPin

Cara Membaca #3: MACD Fast & Slow

Selain menggunakan setting MACD untuk trading jangka pendek, Gerald Appel juga memaparkan cara untuk menggunakan 2 MACD sekaligus. Satu indikator untuk melihat sinyal Buy, dan satunya lagi untuk melihat sinyal Sell.

Untuk mencobanya, pada TradingView, silakan isikan data berikut ini…

Mengenal Indikator MACD Untuk Analisis Teknikal Saham 10 - Investasi SahamPin

MACD A

  • Indicator Timeframe: Same as chart
  • Fast Length: 12
  • Slow Length: 26
  • Source: close
  • Signal Smoothing: 9
Mengenal Indikator MACD Untuk Analisis Teknikal Saham 11 - Investasi SahamPin

MACD B

  • Indicator Timeframe: Same as chart
  • Fast Length: 19
  • Slow Length: 39
  • Source: close
  • Signal Smoothing: 9

Berikut adalah cara membaca MACD dengan menggunakan 2 buah MACD sekaligus…

Mengenal Indikator MACD Untuk Analisis Teknikal Saham 12 - Investasi SahamPin
Mengenal Indikator MACD Untuk Analisis Teknikal Saham 13 - Investasi SahamPin
Mengenal Indikator MACD Untuk Analisis Teknikal Saham 14 - Investasi SahamPin

Meskipun Gerald Appel telah memberikan beberapa alternatif tentang cara membaca MACD yang benar, namun kalau boleh jujur, menurut pengalaman saya, ternyata masih ada cara yang lebih efektif, yang tidak pernah dibahas oleh beliau.

Dalam TRANSIT Investing Masterclass (versi PRO dan PRO+), kita akan membahas cara membaca MACD yang paling ampuh dan akurat, terutama untuk membaca pergerakan harga, dan untuk trading/investasi di Bursa Efek Indonesia.

Indikator Analisis Teknikal MACD: Logika dan Rahasia di Balik Pergerakan Harga

Meskipun dengan menggunakan analisis teknikal MACD, kita dapat mengantisipasi pergerakan harga saham dengan cukup akurat. Namun kalau hanya berbekal indikator saja, sebenarnya masih banyak misteri dan rahasia yang tidak dapat kita ketahui.

Karena ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan, yang tidak bisa dijawab oleh MACD. Contoh, misalnya: Apa yang membuat harga bergerak? Siapa yang menggerakkan? Siapa yang menentukan harga saham? Bagaimana cara mereka membuat harga saham bisa naik dan turun? Apa yang sebenarnya terjadi di “balik layar”? Ada info dan rahasia apa yang tidak kita ketahui dari berita di media?

Nah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya punya serangkaian video tutorial, yang semuanya sudah saya siapkan dalam sebuah playlist khusus berjudul TRANSIT Investing Masterclass (Basic).

Playlist video ini sudah saya upload ke Youtube, dan boleh langsung Anda tonton, GRATIS! Silakan langsung klik tombol di bawah ini…

Btw... jika Anda menyukai artikel ini, boleh tolong share?